Berusahalah untuk memahami wahyu Tuhan Yesus yang telah termeterai
berabad-abad, dan yang kini meterainya telah dibuka oleh Tuhan kita
(Wahyu 6). Tujuan tulisan ini adalah menyingkapkan Firman Tuhan bagi
mereka yang dituju oleh Kasih Karunia Kristus. Tidak ditujukan kepada
mereka yang menolak kasih karunia-Nya, silahkan lanjutkan membaca atau
berhenti disini.
Di bagian ini kita akan lebih mengerti bahwa TUHAN menghendaki kita
umat-Nya memahami detail rencana-Nya termasuk waktu-waktu yang telah
ditetapkan dalam Agenda Tuhan untuk segala sesuatu.
Ada tiga prinsip yang kita akan pahami setelah kita mempelajari
rahasia waktu TUHAN dalam Alkitab lebih dalam. Pertama kita akan
mengerti bahwa TUHAN bekerja dengan rencana-rencana yang cermat, tidak
acak. TUHAN telah merencanakan segala sesuatu dengan agenda dan
ketetapan waktu yang cermat. Pengkotbah mengatakan bahwa untuk segala
sesuatu ada waktunya, artinya segala sesuatu telah direncanakan waktunya
secara tepat.
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” (Pkh 3:1)
Yang kedua kita akan mengerti bahwa rencana-rencana TUHAN itu tidak
berubah-ubah. Banyak orang berpikir Tuhan sering mengubah rencana-Nya,
atau bersifat tidak konsisten, pendapat itu keliru dan merupakan
pemahaman yang dangkal. Raja Daud berkata bahwa rencana TUHAN tetap
tidak berubah-ubah, bahkan sampai turun-temurun rencana-Nya tidak goyah.
“tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.” (Maz 33:11)
Yang ketiga kita akan mengerti bahwa TUHAN berusaha memberitahu
agenda-Nya kepada umat-Nya. Kitab Perjanjian Lama sering disebut sebagai
bayangan bagi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang (Ibrani
10:1). Artinya tulisan di dalam Perjanjian Lama mengandung pembeberan
dari peristiwa-peristiwa yang TUHAN rencanakan terjadi di zaman akhir
ini.
Jika TUHAN telah merencanakan Agenda-Nya secara cermat, lengkap
dengan waktu-Nya yang tetap, dan TUHAN berkehendak kita memahami
rencana-rencana-Nya secara jelas, dimana kita bisa menemukan Agenda-Nya ?
di dalam kitab Taurat-Nya !
Jika kita mempelajari kitab Imamat, kita akan menemukan bahwa rencana
Kedatangan Kristus ternyata telah dijabarkan bulan dan tanggalnya sejak
jauh-jauh hari. Alkitab telah menyingkapkan pada tanggal dan bulan mana
Kristus akan datang untuk kedua kali (Bacalah artikel “AGENDA TUHAN
DALAM KITAB IMAMAT”). Ternyata Kedatangan-Nya untuk mengangkat kita akan
terjadi pada saat yang bersamaan dengan hari raya “Pondok Daun”.
Masalahnya setiap tahun ada peringatan hari raya “Pondok Daun”, apakah
Alkitab juga memberi petunjuk mengenai tahun Kedatangan-Nya ?
Mari simak apa yang Alkitab katakan mengenai Tahun Kedatangan-Nya.
TANDA BENDA-BENDA LANGIT
Alkitab tidak hanya menunjukkan Tanggal dan Bulan Kedatangan-Nya
lewat hari-hari raya yang dicatat di kitab Imamat, namun juga kapan
tepatnya Tahun Kedatangan-Nya. Karena pada prinsipnya TUHAN ingin kita
mengerti dengan jelas, setiap detail Agenda-Nya.
Alkitab mengatakan bahwa matahari dan bulan telah ditetapkan menjadi
tanda untuk menetapkan waktu, hari-hari dan tahun-tahun. Artinya apa
yang terjadi dengan matahari dan bulan adalah
“clue” atau petunjuk yang penting berkaitan dengan waktu.
“Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala
untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu
menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan
tahun-tahun.” (Kejadian 1:14)
Ayat di atas berkata bahwa matahari dan bulan itu adalah tanda yang
menunjukan tahun-tahun. Jadi untuk mengetahui Tahun Kedatangan Tuhan,
kita harus memperhatikan apa yang Alkitab katakan tentang matahari dan
bulan dalam kaitannya dengan Kedatangan-Nya.
Dalam mengungkapkan peristiwa Hari Kedatangan Tuhan, Alkitab sering
menyebutkan suatu tanda yang khas berkaitan dengan matahari dan bulan.
Alkitab berkali-kali menyebutkan bahwa matahari akan menjadi gelap atau
menjadi hitam dan bulan menjadi darah atau tidak bercahaya. Ini adalah
petunjuk bahwa menjelang peristiwa itu akan terjadi gerhana matahari dan
gerhana bulan. Yoel menyebutkan bahwa menjelang hari Tuhan yang hebat
dan dahsyat, matahari akan menjadi gelap gulita dan bulan akan menjadi
darah.
“Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah
sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu.” (Yoel 2:31)
Yesaya juga menyebutkan tanda ini sebelum Hari Tuhan datang, yaitu
matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak memancarkan cahayanya.
“Sungguh, hari TUHAN datang dengan kebengisan, … matahari akan
menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan
sinarnya.” (Yes 13:9-10)
Tuhan Yesus juga menyebutkan peristiwa gerhana matahari dan gerhana
bulan ini akan terjadi segera sesudah tribulasi dan menjelang waktu
Penampakan Anak Manusia di langit yaitu peristiwa “Pengangkatan” itu.
“Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap
dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari
langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak
tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan
mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit
dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Matius 24:29-30)
Rasul Petrus yang penuh Roh Kudus pada hari Pentakosta di Yerusalem
juga mengucapkan kembali nubuat Yoel yang menyebutkan tanda peristiwa
gerhana matahari dan bulan yang terjadi berturut-turut berkaitan dengan
datangnya hari Tuhan yang mulia itu.
“Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah
sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu.” (Kisah
2:20)
Kitab Wahyu menyingkapkan juga bahwa pada pembukaan meterai keenam,
yaitu pada peristiwa hari besar Penampakan Tuhan Yesus (Wahyu 6:16-17),
akan sama ditandai dengan peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan.
“Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam,
sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi
hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan
darah.” (Wah 6:12)
Jadi TUHAN akan membuat tanda alam gerhana matahari yang akan disusul
dengan terjadinya gerhana bulan menjelang hari Kedatangan-Nya.
Peristiwa alam ini akan menjadi petunjuk waktu untuk memecahkan misteri
datangnya hari “Pengangkatan” orang percaya.
Kita tidak boleh secara sembarang menyimpulkan sesuatu, tetapi semua
harus diuji dengan teliti dan cermat. Bahwa hari Pondok Daun yang
jatuh pada l Bulan September itu benar-benar adalah hari Kedatangan
Tuhan, harus memenuhi satu syarat lagi yaitu hari raya Pendamaian yang
jatuh pada bulan ELUL – harus merupakan waktu yang tepat
untuk mengumumkan Tahun Yobel. Mengapa demikian ? Karena sebelum
Pengangkatan harus terjadi dahulu Kebangkitan Orang Percaya yang telah
mati dalam Tuhan.
“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat
berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun
dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu
bangkit.” (1Tesalonika 4:16)
Sementara itu Kebangkitan Orang Percaya hanya akan terjadi pada Tahun
Yobel (Ingat Tahun Yobel adalah lambang Tahun Pembebasan dari maut atau
Kebangkitan Orang Percaya). Dan Tahun Yobel harus diumumkan tepat pada
hari Pendamaian. Jadi hari Pendamaian yang jatuh pada
September 2017 harus memenuhi syarat sebagai awal Tahun Yobel untuk
mendukung kesimpulan bahwa Kedatangan Tuhan akan terjadi pada hari
Pondok Daun 2017.
PENGUJIAN TAHUN YOBEL
Menurut aturan Imamat 25, Tahun Yobel adalah Tahun Pembebasan yang
dihitung empat puluh sembilan tahun setelah bangsa Israel memperoleh
tanah perjanjian.
“…Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu,
maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN.”
(Imamat 25:2)
“Selanjutnya engkau harus menghitung… empat puluh sembilan tahun…
dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh… pada hari raya Pendamaian
kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana…
memaklumkan kebebasan… Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu…” (Imamat
25:8-10)
Untuk menghitung jatuhnya Tahun Yobel harus melihat kondisi bahwa
bangsa Israel telah menerima negeri yang dijanjikan TUHAN. Jadi ketika
bangsa Israel berada dalam pembuangan seperti di Asyur dan di Babilonia,
Tahun Yobel tidak boleh dihitung. Begitu juga selama bangsa Israel
terserak ke seluruh dunia sejak penjajahan oleh kekaisaran Romawi.
Pada awal abad ke-20, sejak meletusnya perang dunia pertama, bangsa
Israel moderen mulai berbondong-bondong ‘eksodus’ dari seluruh penjuru
dunia, kembali memasuki negeri yang TUHAN janjikan. Pada tanggal 15 Mei
tahun 1948 bangsa Israel moderen menyatakan kemerdekaannya. Namun
demikian tanah Perjanjian terpenting yaitu kota tua Yerusalem dan Yudea
serta Samaria masih dikuasai kerajaan Yordania. Baru pada Tanggal 7 Juni
1967, melalui peristiwa Perang Enam Hari, Yerusalem dan wilayah
Yudea-Samaria dapat direbut kembali. Hari itu dirayakan sebagai “Yom
Yerusalayim”, hari kembalinya kota Yerusalem.
Tanggal 7 Juni 1967 adalah tonggak sejarah penting bagi bangsa
Israel, dan hari itu merupakan awal yang tepat untuk menghitung Tahun
Yobel menurut aturan Imamat 25. Dan bila kita menghitung 49 tahun atau
17,640 hari (49 x 360 hari) dari tanggal 7 Juni 1967, – kita dapat
menghitungnya menggunakan komputer dengan program Microsoft Excel
misalnya – ternyata hasilnya jatuh tepat pada Tanggal 23 September 2017 !
Ini sungguh suatu tanda yang luar biasa. Dalam sejarah bangsa Israel
pun barangkali tidak pernah datang Tahun Yobel sesempurna ini, dimana
aturan Imamat 25:9 tentang hitungan 49 Tahun dapat digenapi tepat jatuh
pada hari Pendamaian, tidak kurang tidak lebih seharipun. Sepertinya
pada tanggal 23 September 2017 ini, kita akan memasuki : “The Real
Jubilee” / Tahun Pembebasan Sesungguhnya yang merupakan penggenapan dari
perayaan-perayaan Yobel bangsa Israel sebelumnya.
Dengan dipenuhinya pengujian Yobel pada 23 September 2017, maka hari
raya Pondok Daun pun genap memenuhi tiga kriteria sekaligus sebagai
Hari Tuhan Yang Mulia dan Dahsyat itu. Yaitu memenuhi syarat Hari Raya
(Kol 2:16-17), memenuhi Nubuat Bulan Darah (Yoel 2:31) dan memenuhi
syarat tentang Yobel secara sangat akurat (Imamat 25:9).
Perhatikan disini,
penulis tidak bermaksud memastikan, apalagi mengatur atau menentukan Tanggal Kedatangan Tuhan.
Kristus sendirilah yang menentukan jauh-jauh hari dan Dialah yang
menyatakan Hari Kedatangan-Nya baik lewat kitab Imamat dan kitab-kitab
para nabi, maupun kitab-kitab Perjanjian Baru, yang menyatakan bahwa Roh
Kudus yang diutus Bapa akan mengajarkan segala sesuatunya kepada kita
hamba-hamba-Nya (Yoh 14:26), dan oleh kehendak Allah, Roh menyatakan
hal-hal yang tersembunyi dalam diri-Nya kepada kita (1Kor 2:10). Sedang
kami hanya membagikan hasil studi.